Contact Us
Find Our Page
// Instagram
// Follow Us

Solastalgia: Menavigasi Kerinduan akan Rumah di Tengah Perubahan Lanskap Urban

Alinear Indonesia
27 February 2026
57
Solastalgia: Menavigasi Kerinduan akan Rumah di Tengah Perubahan Lanskap Urban

"Memahami distres emosional yang muncul ketika lingkungan yang dicintai berubah secara drastis, menciptakan rasa asing yang mendalam meski masih berada di rumah sendiri."

Photo by Ryoji Iwata on Unsplash
 
Berdiri di sudut jalan yang akrab namun tiba-tiba merasa asing merupakan indikasi dari sebuah fenomena yang disebut Solastalgia. Istilah yang dicetuskan oleh filsuf lingkungan Glenn Albrecht ini mendefinisikan bentuk distres eksistensial dan emosional yang dialami manusia ketika lingkungan tempat tinggal mereka mengalami perubahan negatif yang drastis. Di kota-kota besar yang terus bersalin rupa melalui proyek pembangunan masif, gentrifikasi agresif, hingga dampak perubahan iklim, solastalgia menjadi respons psikologis yang nyata terhadap hilangnya memori kolektif dan keterhubungan individu dengan ruang fisiknya.
 
"Solastalgia adalah rasa sakit karena kehilangan rumah, padahal kita tidak pernah pergi ke mana-mana; rumah kitalah yang pergi meninggalkan kita melalui perubahan yang tak kenal ampun."
 

Photo by Oliver Cole on Unsplash
 
Dalam konteks antropologi urban, solastalgia muncul akibat ketidakmampuan manusia untuk beradaptasi dengan kecepatan perubahan fisik lingkungannya. Identitas diri sering kali terikat pada "jangkar memori" tertentu—seperti taman tua, gedung bersejarah, atau deretan pohon ikonik. Ketika elemen-elemen ini digantikan oleh struktur beton yang generik, terjadi diskoneksi identitas dan hilangnya rasa aman secara intuitif. Lingkungan yang seharusnya menjadi tempat perlindungan (sanctuary) dapat berubah menjadi sumber kecemasan. Rasa kehilangan ini bersifat sistemik dan berdampak nyata pada tingkat stres komunal serta menurunnya kohesi sosial di pemukiman urban.
 
 
Secara psikologis, solastalgia merusak rasa kepemilikan terhadap tempat (sense of place). Manusia secara biologis membutuhkan stabilitas lingkungan untuk merasa "berakar", namun di era pembangunan cepat, stabilitas ini menjadi tantangan. Gentrifikasi, misalnya, tidak hanya mengubah ekonomi properti tetapi juga menghapus lapisan sejarah sosial. Penggantian unit usaha lokal oleh ritel waralaba internasional atau perubahan ruang terbuka publik menjadi kompleks privat menciptakan perasaan teralienasi. Inilah inti dari solastalgia: sebuah kerinduan mendalam akan "rumah" yang masih ada secara geografis, tetapi telah lenyap secara emosional dan spiritual.
 

Photo by Simon L on Unsplash
 
Pengakuan akan fenomena solastalgia dapat menjadi katalisator bagi gerakan urbanisme yang lebih humanis. Paradigma pembangunan diperlukan untuk tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menghormati kebutuhan psikologis manusia akan keberlanjutan memori. Para perencana kota masa depan kini mulai mempertimbangkan "kesehatan naratif" sebuah lingkungan, menciptakan ruang yang memungkinkan komunitas mempertahankan koneksi emosional mereka dan membiarkan sejarah tetap bercerita di tengah modernitas.
 

Photo by Ahmed Syed on Unsplash
 
Mendokumentasikan memori kota melalui seni, literatur, dan arsip digital adalah cara efektif untuk memitigasi dampak solastalgia. Melalui penceritaan kembali sejarah ruang, generasi baru diberikan kesempatan untuk memahami akar mereka. Selain itu, keterlibatan aktif warga dalam pengambilan keputusan pembangunan menjadi kunci untuk menjaga rasa kepemilikan. Kota yang ideal adalah kota yang mampu memberikan rasa "pulang" yang konsisten, di mana kemajuan tidak berarti penghapusan jejak masa lalu yang berharga bagi jiwa manusia.
 

Photo by Shio Yang on Unsplash
 
"Membangun kota bukan sekadar menyusun bata dan baja, melainkan merawat ruang-ruang di mana ingatan dan identitas dapat tetap berakar dengan tenang di tengah arus perubahan."
 
WRAP-UP!
Solastalgia adalah pengingat bahwa kesejahteraan manusia sangat bergantung pada stabilitas dan kesehatan hubungan kita dengan lingkungan sekitar. Mulailah mendokumentasikan sudut favorit di kota Anda dan dukung inisiatif pelestarian ruang publik untuk menjaga memori kolektif tetap hidup. Jelajahi inspirasi Lifestyle & Urban Anthropology lainnya bersama kami di Alinear Indonesia. Share pengalaman Anda!

Videos & Highlights

Editor's Choice