Contact Us
Find Our Page
// Instagram
// Follow Us

The Eternal Stitch: Menghargai Integritas & Ketahanan dalam Seni Kriya Kulit Tangan

Alinear Indonesia
19 February 2026
103
The Eternal Stitch: Menghargai Integritas & Ketahanan dalam Seni Kriya Kulit Tangan

"Mengapa teknik jahitan dua jarum tradisional tetap menjadi standar emas bagi produk kulit yang dirancang untuk bertahan melintasi generasi."

Photo by Ocult Store on Unsplash 
 
Di tengah banjir produk kulit massal yang sering kali hancur dalam hitungan bulan, dunia kriya kulit tradisional menawarkan sebuah kemewahan yang tenang: ketahanan abadi. Salah satu teknik yang menjadi jantung dari kualitas ini adalah Saddle Stitch atau jahitan pelana. Teknik ini menggunakan dua jarum yang bekerja secara simultan melewati satu lubang yang sama dari arah yang berlawanan. Secara teknis, keunggulan saddle stitch terletak pada strukturnya; jika satu benang terputus di tengah jalan, jahitan lainnya akan tetap menahan material dengan kuat, tidak seperti jahitan mesin yang akan langsung terurai seluruhnya. Inilah mengapa pelana kuda dan koper-koper mewah klasik selalu menggunakan teknik ini.
 
"Di setiap tarikan benang yang dilakukan dengan tangan, ada janji tentang kekuatan yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh kecepatan mesin jahit industri."
 
 
Mengerjakan kriya kulit dengan tangan adalah sebuah bentuk meditasi kinetik. Seorang pengrajin harus memiliki kesabaran untuk melubangi kulit satu per satu menggunakan alat pahat (pricking iron) dan memastikan setiap tarikan benang memiliki tekanan yang konsisten. Konsistensi ini memberikan estetika jahitan yang miring secara elegan, sebuah detail kecil yang bagi mata yang terlatih merupakan sertifikat keaslian kriya tangan. Bahan yang digunakan pun bukan sembarang kulit; biasanya adalah kulit vegetable tanned (samak nabati) yang diproses menggunakan ekstrak kayu dan kulit pohon. Kulit jenis ini bersifat taktil dan akan mengembangkan "patina" seiring waktu—perubahan warna dan tekstur yang menceritakan sejarah pemakaian pemiliknya.
 

Photo by Sadikali PM on Unsplash 
 
Hobi atau apresiasi terhadap kriya kulit mengajarkan kita tentang konsep "pembelian terakhir". Alih-alih membeli dompet atau tas murah setiap tahun, kita berinvestasi pada satu barang yang akan menjadi semakin indah saat menua. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap budaya buang-pakai. Di hari Kamis ini, mari kita hargai benda-benda yang ada di sekitar kita. Lihatlah apakah mereka dibuat dengan niat untuk bertahan, atau sekadar untuk terlihat bagus di rak toko. Memilih barang artisan adalah cara kita mendukung ekosistem pengrajin lokal yang masih menjaga api tradisi kriya tetap menyala. Sebuah jahitan tangan bukan sekadar soal menyambung dua lembar kulit; itu adalah soal menyambungkan niat pengrajin dengan kebutuhan jangka panjang pengguna.
 

Photo by shri on Unsplash
 
"Barang kriya tidak hanya menua; ia berevolusi bersama Anda, menyimpan setiap goresan perjalanan hidup Anda dalam setiap jahitannya yang kokoh."
 
WRAP-UP!
Seni kriya kulit tangan dengan teknik saddle stitch adalah puncak dari estetika fungsional yang berkelanjutan. Jika Anda memiliki barang kulit asli, ambillah waktu sore ini untuk membersihkannya dengan leather balm; perhatikan setiap jahitannya dan hargailah kerja keras manusia yang ada di baliknya.

Videos & Highlights

Editor's Choice