Contact Us
Find Our Page
// Instagram
// Follow Us

Beyond Greenwashing: 5 Sektor Bisnis Indonesia yang Benar-Benar Serius Menerapkan Prinsip ESG (Environmental, Social, Governance)

Alinear Indonesia
02 January 2026
100
Beyond Greenwashing: 5 Sektor Bisnis Indonesia yang Benar-Benar Serius Menerapkan Prinsip ESG (Environmental, Social, Governance)

"Era bisnis yang hanya mencari untung sudah usai. Stakeholder modern menuntut pertanggungjawaban. ESG bukan lagi pilihan, melainkan harga tiket untuk bertahan di pasar, dan konsumen Indonesia semakin pandai membedakan aksi nyata dari gimmick semu."

 
 
Waspada Greenwashing
Istilah Environmental, Social, and Governance (ESG) kini menjadi buzzword yang wajib ada di setiap laporan tahunan perusahaan. ESG mengacu pada bagaimana perusahaan beroperasi dalam kaitannya dengan lingkungan (E), komunitas dan karyawan (S), serta kepemimpinan dan transparansi (G).
 
Sayangnya, popularitas ESG juga melahirkan praktik Greenwashing—upaya perusahaan untuk terlihat ramah lingkungan tanpa melakukan perubahan fundamental. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu dan uang untuk mengiklankan diri sebagai perusahaan hijau daripada benar-benar menjadi hijau.
 
Namun, kabar baiknya, di Indonesia, terdapat sektor-sektor bisnis yang bergerak melampaui greenwashing. Mereka menyadari bahwa investasi pada ESG adalah strategi bisnis jangka panjang yang meningkatkan nilai brand, menarik investor asing yang sadar ESG, dan memastikan keberlanjutan operasional.
 
 
Ciri-Ciri Bisnis yang Truly Sustainable
Bagaimana cara membedakan perusahaan yang sungguh-sungguh menerapkan ESG dari yang hanya gimmick? Perusahaan yang serius menunjukkan ciri-ciri berikut.
 
•• Komitmen Jelas (Terukur dan Auditable): Mereka menetapkan target yang terukur, seperti target net-zero emission pada tahun tertentu, bukan sekadar janji untuk "menjadi lebih baik."
 
•• Investasi R&D: Mereka berinvestasi besar pada Penelitian dan Pengembangan (R&D) untuk mencari teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan, misalnya mengganti bahan baku berbahaya.
 
•• Transparansi Rantai Pasok (Supply Chain): Mereka terbuka tentang dari mana bahan baku mereka berasal dan bagaimana mereka memastikan praktik kerja yang adil (S) serta dampak lingkungan di hulu (E).
 
Studi Kasus Sektor Bisnis Indonesia yang Serius Menerapkan ESG – Berikut adalah beberapa sektor di Indonesia yang menunjukkan komitmen kuat pada pilar-pilar ESG.
 
1. Sektor Keuangan (Pilar G: Governance & S: Social)
 

Photo by Loui Kiær on Unsplash
 
Bank dan lembaga keuangan kini didorong oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk menerapkan Keuangan Berkelanjutan. Komitmennya bukan hanya pada operasional internal, tetapi juga bagaimana mereka menyalurkan pinjaman. Mereka mulai membatasi pendanaan untuk proyek-proyek yang merusak lingkungan (misalnya, tambang ilegal) dan memberikan kredit berbunga rendah untuk UMKM ramah lingkungan atau proyek energi terbarukan.
 
2. Sektor Energi (Pilar E: Environmental)
 
 
Meskipun Indonesia masih bergantung pada batu bara, banyak perusahaan energi besar kini beralih ke diversifikasi portofolio. Mereka melakukan investasi signifikan dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Perusahaan yang serius juga berani menutup atau merestrukturisasi unit bisnis yang emisinya tinggi demi mencapai target carbon neutral di masa depan.
 
3. Sektor F&B dan Pertanian (Pilar S: Social & E: Environmental)
 
 
Di sektor ini, penerapan ESG terlihat dari komitmen terhadap perdagangan yang adil (fair trade) dan pertanian regeneratif. Mereka memastikan harga yang adil bagi petani (S), mengurangi penggunaan pestisida, dan memperbaiki kualitas tanah alih-alih mengeksploitasinya. Contohnya terlihat pada brand kopi, teh, dan cokelat yang fokus pada single-origin dan kemitraan langsung dengan petani.
 
4. Sektor Manufaktur (Pilar E: Environmental)
 

Photo by Shavr IK on Unsplash
 
Perusahaan manufaktur yang serius telah mengadopsi prinsip Ekonomi Sirkular. Ini berarti mereka tidak hanya memproduksi, tetapi juga merancang produk agar mudah didaur ulang atau direkondisi. Investasi besar dikeluarkan untuk teknologi daur ulang air dan energi serta mengurangi limbah (waste) hingga mendekati nol dalam proses produksi mereka.
 
5. Sektor Properti dan Konstruksi (Pilar E: Environmental)
 

Photo by mk. s on Unsplash
 
Pembangunan gedung kini bergeser ke arah Green Building. Perusahaan properti yang serius membangun dengan sertifikasi lingkungan, menggunakan bahan baku lokal yang mengurangi jejak karbon transportasi, dan merancang bangunan yang efisien energi (memaksimalkan cahaya alami dan ventilasi). Ini adalah bukti bahwa desain yang bertanggung jawab justru dapat menghemat biaya operasional jangka panjang.
 
WRAP-UP! – Mendorong Transparansi Pasar
Perjalanan bisnis Indonesia menuju keberlanjutan adalah sebuah maraton, bukan sprint. Transparansi dari perusahaan-perusahaan di sektor ini sangat penting.
 

Photo by Wang xiaoqi on Unsplash
 
Bagi konsumen, tugas kita adalah menjadi kritis: dukung dan berinvestasilah pada perusahaan yang menunjukkan komitmen ESG yang nyata, terukur, dan terbukti di lapangan. Dengan demikian, kita ikut mendorong pasar untuk mengedepankan nilai bersama (shared value) di atas keuntungan semata.
 
Perusahaan Indonesia di sektor apa yang menurut Anda paling inspiratif dalam menerapkan ESG? Bagikan kisah sukses Anda.
 
"Di Tengah Hype Keberlanjutan, Tidak Semua Perusahaan Jujur. Inilah Contoh Studi Kasus Lokal yang Membuktikan Bahwa Sustainability adalah Strategi Bisnis Jangka Panjang, Bukan Sekadar Marketing."

Videos & Highlights

Editor's Choice